Wisuda Pascasarjana, Sarjana dan Diploma UIA 2019

0
1729

Jakarta Timur (UIA) ~ Airmata berlinang di pipi para Wisudawan dan Wisudawati di saat disuruh melambaikan tangan kepada orangtuanya yang duduk paling belakang gedung Sasana Kriya Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Lambaian tangan yang diminta Rektor UIA, Dr. Masduki Ahmad, SH., MM membuat suasana penuh haru, bahagia dan suka cita. Hal itu terlihat pada Sidang Terbuka Senat UIA, Wisuda Pascasarjana, Sarjana dan Diploma UIA Tahun 2019, Rabu 20 Maret 2019/13 Rajab 1440 H.

Adapun pelaksanaan Wisuda itu diberikan kepada Magister Komunikasi Islam, Magister Ilmu Hukum, Magister Manajemen dan Magister Teknologi Pendidikan untuk Strata 2 (S.2), sedang Strata 1 (S.1 – Sarjana) kepada Wisudawan/Wisudawati Fakultas Agama Islam, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Sains dan Teknologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Ilmu Kesehatan, dan Diploma Akademi Keperawatan.

Sedang pengisi Orasi Ilmiah Wisuda UIA 2019 disampaikan Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA dengan topik “Tantangan Umat Islam dan Masa Depan Indonesia”. Selain dihadiri pimpinan dan seluruh civitas akademika UIA, wisudawan serta orangtua, juga dihadiri wakil dari L2DIKTI Wilayah III, wakil dari Kopertais Wilayah I DKI Jakarta, Tokoh Luar Negeri serta berbagai Lembaga dan Ormas.

“Universitas Islam As-Syafi’iyah sebagai institusi pendidikan berbasis keagamaan yang berorientasi pada mutu, terus melakukan upaya-upaya konkret untuk meningkatkan hasil yang signifikan demu kemajuan Islam. Salah satunya adalah berkomitmen untuk menghasilkan lulusan-lulusan yang unggul khususnya dalam penguasaan IPTEK, berakhlaq mulia dan menjadi kebanggaan masyarakat, serta dapat memberikan kemaslahatan bagi bangsa, masyarakat dan agama,” papar Masduki Ahmad.

Rektor UIA lebih lanjut mengatakan, wujud konkret atas komitmen tersebut adalah dengan terus melakukan perbaikan yang berkesinambungan dalam aktivitas pembelajaran dengan memenuhi unsur-unsur sebagai berikut;

  1. Membuat pencapaian pembelajaran yang jelas;
  2. Mewujudkan organisasi Perguruan Tinggi yang sehat;
  3. Pengelolaan Perguruan Tinggi yang transparan dan akuntabel;
  4. Ketersediaan rancangan pembelajaran Perguruan Tinggi dalam bentuk dokumen kurikulum yang jelas dan sesuai kebutuhan pasar kerja;
  5. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan SDM akademik dan nonakademik yang handal dan profesional;
  6. Ketersediaan sarana-prasarana dan fasilitas belajar yang memadai.

Ketua Yayasan Perguruan Tinggi As-Syafi’iyah (YAPTA), Prof. Dr. H. Dailami Firdaus, SH., L.LM., MBA mengatakan, Yayasan ikut meng-inisiasi berbagai program kerjasama baik secara nasional, regional maupun internasional dengan Australia, Korea Selatan, Tiongkok, Eropa, Amerika Serikat, Timur Tengah.

“Untuk mencapai visi dan harapan UIA agar mampu menciptakan SDM yang unggul dan kompetitif di era milenial, pihak YAPTA terus menambah dan memperkuat sarana dan prasarana pembangunan kampus termasuk infrastruktur bidang Information and Communication Technology (ICT),” tambah Ketua YAPTA.

Sementara dari orasi ilmiah yang disampaikan Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA memaparkan, Indonesia sedang menghadapi masalah serius yakni adanya deviasi, disorientasi dan distorsi kebangsaan dari ciri dasar yang diletakkan oleh pendiri bangsa. Hal ini diungkapkan oleh Din Syamsuddin dalam orasi ilmiahnya, yang mengatakan Indonesia mengalami National Disequiblirium.

“Sesungguhnya konstitusi kita adalah dimana Islam memposisikanya sebagai jalan tengah (wasatiah). Jalan kebangsaan,” ujar Din Syamsuddin dengan jelas menambahkan, sesungguhnya tidak ada masalah sama sekali antara Islam dan kebangsaan, atau antara Islam dengan ke-Indonesia-an. Umat Islam dan masa depan bangsa Indonesia, nantinya akan bisa melahirkan pemimpin-pemimpin yang transformatif.

Namun, Din Syamsuddin menyayangkan bahwa dalam tataran implementasi dari derivasi perundangan, tidak diimplementasikan dengan baik. Bahkan ada ribuan peraturan yang bertentangan dengan semangat konstitusi bangsa Indonesia sendiri.

“Lalu apa yang harus dilakukan umat Islam sebagai masyarakat mayoritas dan peran kesejarahannya adalah, umat Islam harus jadi penentu perubahaan dan melahirkan kepemimpinan transformatif,” papar Din Syamsuddin.

Untuk melahirkan kepemimpinan tersebut, umat Islam harus memiliki modal sumber daya manusia (SDM) yang menguasai seluruh ilmu pengetahuan dengan baik. “Harus ada modal SDM yang menguasai ilmu dan pengetahuan serta keunggulan yang relevan dan penguasaan ekonomi,” tambah Din Syamsuddin.

Kemudian Ketua Pembina Yayasan Perguruan Tinggi As-Syafi’iyah, H. Moh. Reza Hafiz, SE menyerahkan cinderamata kepada Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA yang telah memberikan orasi ilmiah Wisuda UIA Tahun 2019. Dalam penyerahan cinderamata itu, H. Moh. Reza Hafiz didampingi Rektor UIA dan Ketua YAPTA.

Selain prosesi wisuda, para hadirin yang memenuhi Gedung Sasana Kriya TMII itu khususnya para wisudawan juga menunggu-nunggu hasil dari Wisudawan UIA Terbaik Tahun 2019, dimana setelah dibacakan Surat Keputusan Wisudawan Terbaik oleh Wakil Rektor III, Hj. Syifa Fauzia, M.Art, hasilnya adalah; Ulfa Mujahidah (FKIP) sebagai Wisudawati UIA terbaik I, Jumali Hasna Hasibuan (FST) sebagai Wisudawati UIA Terbaik II dan Ahmad Hafidz (FAI) sebagai Wisudawan UIA Terbaik III.

Suasana Wisuda UIA tahun 2019 di Gedung Sasana Kriya TMII.
Rektor UIA, Dr. Masduki Ahmad, SH., MM.
Ketua YAPTA, Prof. Dr. H. Dailami Firdaus, SH., L.LM., MBA.
Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA saat menyampaikan Orasi Ilmiah.
H. Moh. Reza Hafiz, SE sebagai Ketua Pembina YAPTA didampingi Rektor UIA dan Ketua YAPTA saat menyerahkan cinderamata kepada Din Syamsuddin.
Wusidawan S.1 Terbaik UIA 2019 berfoto bersama Rektor dan Warek.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here