Sambutan Rektor UIA Pada MTMB-UIA 2018

0
1096

Jatiwaringin (UIA) ~ Masa Ta’ruf Mahasiswa Baru Universitas Islam As-Syafi’iyah (MTMB) Tahun 2018 dilaksanakan hingga pelantikan dengan kuliah perdana nanti pada Hari Sabtu, 22 September 2018.

Rektor UIA, Dr. Masduki Ahmad, SH., MM dalam pembukaan MTMB-UIA 2018 yang dilaksanakan di Plasa UIA, Selasa 18 September 2018 mengucapkan Selamat Datang para Calon Mahasiswa Baru yang mengikuti MTMB di Kampus Berpadunya Ilmu dan Agama, Universitas Islam As-Syafi’iyah.

Inilah petikan sambutan Rektor UIA pada pembukaan MTMB-UIA 2018.

Yang terhormat Para Wakil Rektor, Para Dekan, Wakil Dekan dan Jajaranya, Para Kepala Lembaga Direktur, dan Kepala Biro, Ketua MPM, Presiden Mahasiswa, Pengurus BEM, Ketua Panitya MTMB dan Para Calon Mahasiswa UIA Pewaris Peradaban.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah1 dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. Al-Nahl [16]: 125)

Pasang surut suatu peradaban manusia dibelahan bumi manapun kapanpun waktunya tidak pernah terlepas dari peran pemuda di dalamnya. Dalam sejarah berbagai peradaban, tidak bisa dipungkiri pemuda merupakan rahasia kebangkitan yang mengibarkan panji-panji kemenangannya. Demikian juga insya Allah peradaban Indonesia kedepan akan kembali bangkit dengan pemuda sebagai tonggak kebangkitannya. Allahuakbar!

“Tiap kali kuhadapi masalah-masalah besar, yang kupanggil adalah anak muda” (Umar Bin Khattab RA, Khalifah ke-2). Pemuda adalah aset bangsa yang tak ternilai harganya, ditangan pemudalah bangsa ini dipertaruhkan. Bila kita ingin melihat kemajuan suatu bangsa maka lihatlah pemudanya.

Proklamator Bung Karno sebagai the funding father Negara Indonesia sering kali mengobarkan semangatnya dengan berucap “Beri aku sepuluh pemuda dan dengan kesepuluh pemuda itu aku akan mengguncang dunia. Dengan seratus pemuda, aku akan memindahkan Gunung Semeru.”Begitu hebatnya peranan pemuda dalam menggerakan dan mengawal berdirinya suatu kedaulatan bangsa.

”Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang, pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya. Usamah Bin Zaid adalah tauladan pemuda muslim dunia yang telah menorehkan tinta emas dalam usianya yang terbilang muda 18 tahun Rasulullah SAW mengangkat Usamah sebagai commander of war (komandan perang) pasukan Islam untuk menyerbu wilayah Syam yang saat itu ada dalam genggaman kekuasaan Rumawi.

Selain Umar Bin Zaid, terdapat pemuda muslim cemerlang dan luar biasa lainnya seperti Tariq bin Ziyad yang kuat, Abdullah bin Mas’ud yang amanah, Abdullah bin Abbas yang berilmu, Zaid bin Tsabit yang cerdas, Ali bin Abi Thalib yang perkasa, Muhammad al-Fatih sang penakluk dan tentu masih banyak tokoh pemuda muslim hebat lainnya. Sejarah hidup mereka penuh dengan kegemilangan dalam kontribusi mereka bagi dunia dan Islam, sehingga Islam dengan kehendak Allah SWT pernah mencapai masa kejayaannya

Mahasiswa adalah bagian dari pemuda yang memiliki ciri khas tersendiri. Sejarah mencatat peran-peran signifikan dari pergerakan mahasiswa Indonesia dalam momentum-momentum besar yang terjadi di negeri ini. Dari zaman perjuangan kemerdekaan hingga era reformasi saat ini mahasiswa memegang peranan penting bersama pergerakannya yang tak kenal henti.

Dr. Yusuf Qardhawi dalam karyanya “Fiqhul Aulawiyyat” (1995) menegaskan bahwa pemuda atau mahasisiwa menempati prioritas utama dalam perubahan menuju tatatan masyarakat Islami sebelum elemen lainnya. Dalam piramida perubahan, mereka menempati strata teratas yang bercirikan  kecil secara kuantitas  namun besar dalam kualitas perubahan (agent of change).

Dr. Fathi Yakan dalam ‘As-Syabab Wat Taghyir’(1990) berkesimpulan, “Setiap ideologi revolusioner dunia selalu menjadikan pemuda dan mahasiswa sebagai tulang punggung perubahan.”  Keberhasilan pelbagai revolusi besar dunia telah melibatkan mahasiswa baik sebagai ideolog maupun sebagai motor ideologi.

Di Perancis, Mahasiswa dan kalangan intelektual Universitas Paris berperan besar dalam menumbangkan tiranisme monarki sekaligus menandai babak baru Eropa modern. Menyusul di Inggris, mahasiswa Universitas Oxford berhasil memaksa raja untuk taat konstitusi ‘baru’ dan menjadikannya semata sebagai simbol kenegaraan.

Mahasiswa, pemuda atau generasi muda bagi masyarakat adalah harapan dan tumpuan yang menjadi pilar kebangkitan umat. Dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya, mahasiswa merupakan pengibar panji-panji kebenaran dan oposan kebathilan.

Beranjak dari ayat diatas, sesungguhnya sangat banyak kewajiban mahasiswa sebagai sekelompok orang-orang terdidik untuk memikul amanat berat yang ada dipundak mereka. Mereka harus berpikir panjang, banyak beramal, bijak dalam menentukan sikap, menjadi penyelamat kebenaran, dan menunaikan hak-hak umat dengan sebaik mungkin.

Mahasiswa sebagai salah satu elemen reformasi adalah the one and only efficient opposant in the world (satu-satunya pengemban amanah oposan yang paling efisien didunia), mahasiswa adalah  Unsur Perubah (Anashiruth Taghyiir)  dalam mengawal perubahan sosial kearah yang lebih baik. Mahasiswa dengan keyakinan kuatnya punya keikhlasan dan idealisme dalam berjuang, semangat untuk merealisasikannya serta punya kesiapan untuk beramal dan berkorban untuk mewujudkannya.

Saudara-saudara calon mahasiswa UIA yang saya banggakan.

Memasuki abad 21 hidup manusia termasuk manusia yang mempunyai predikat mahasiswa menghadapi tantangan yang lebih besar. Salah satunya ditunjukan dengan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi yang mengakibatkan melimpahnya informasi yang tidak terbendung, apalagi sejak era keterbukaan di Indonesia.

Pada era Post Industri ini segala macam informasi akan segera melimpah ke hadapan kita, sehingga sangat memungkinkan informasi-informasi yang sifatnya merusak akan segera kita cerna. Aksi-aksi yang selalu dilakukan oleh mahasiswa sebagai media kontrol terhadap pemerintah bukan sarana yang efektif lagi dalam hal ini, sebab informasi-informasi tersebut sedikit banyak bukan datang dari pemerintah, tetapi datang dari dunia luar kita.

Era Post Industri menyebabkan ruang gerak dunia menjadi sempit, pepatah “dunia tak selebar daun kelor” sudah tidak berlaku lagi. Meminjam istilah Patricia aburdin Kini Dunia Ibarat Global village – Desa Global, karena secara geografis tidak ada lagi batas wilayah dari penerimaan informasi. Bahkan meminjam istilah Samuel P. Hutington dunia kita sudah menganut peradaban universal, di mana karena adanya sistem informasi yang tidak terbatas, dunia kita selalu dimasuki dunia luar, kita tidak punya identitas yang jelas, tidak punya identitas lokal Indonesia, sehingga menganut sistem budaya yang sama dengan dunia luar kita-Barat

Akan tetapi semua menjadi tidak berarti jika pemuda dalam hal ini mahasiswa diam saja. Sibuk dengan diri sendiri, angkuh, apatis, tidak peduli dengan keadaan bangsa ini minimal dengan masyarakat di sekitar rumahnya dan sombong hanya dengan titel mahasiswa yang menghiasi hatinya. Bangsa ini bak kehilangan nahkoda muda yang seharusnya menjadi pilar keadilan dan pejuang kebenaran.

Oleh sebab itu kini bangsa sedang menanti sepak terjang mahasiswa yang sangat diharapkan akan merubah bangsa ini menjadi lebih baik. Mahasiswa menjadi tumpuan berbagai pihak. Mahasiswa merupakan harapan bangsa, harapan masyarakat, harapan keluarga, dan harapan dunia.

Setidaknya ada 3 peran yang seharusnya dimiliki mahasiswa:

Pertama, mahasiswa memiliki peran sebagai intelektual akademisi. Ini memang tugas mahasiswa yang seharusnya dimiliki. Seorang mahasiswa intelektual akademisi selayaknya tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual saja, tapi juga kecerdasan spiritual.

Sebagaimana kita tahu Indonesia banyak memiliki orang-orang pintar tapi sedikit memiliki orang-orang pintar bermoral. Akibatnya kerusakan terjadi dimana-mana karena segala sesuatu tidak diseimbangkan antara fikiran logika rasional dan spiritual kepada Allah SWT.

Kinilah saatnya mahasiswa menjadi motor penggerak dan pelopor kebangkitan bangsa. Dimulai dengan serius menimba ilmu, mengentalkan islam dalam hati, dan buktikan dengan amalan terbaik. Jangan hanya sibuk mengkritik orang tapi kritik lah diri sendiri apakah sudah baik diri ini mengemban amanah sebagai mahasiswa. Jangan sibuk menjelek-jelekan orang tapi lihat diri adakah keburukan yang hendaknya tidak ada pada diri kita sebagai pemuda harapan bangsa. InsyaAllah mahasiswa muslim intelektual akan menjadi solusi dari persoalan bangsa ini.

Kedua, mahasiswa berperan sebagai agen perubahan (agent of change). Mahasiswa yang berpendidikan akan menjadi faktor peubah dalam masyarakat kedepan. Apa yang dilakukan mahasiswa saat ini akan menjadi cerminan bangsa di masa yang akan datang. Jika saat ini mahasiswa berleha-leha, malas, dan urung belajar maka hasilnya akan berakibat buruk pada masa depan bangsa. Sebaliknya jika mahasiswa rajin, terus belajar, tiada henti berjuang membela keadilan dan kebenaran maka dapat ditebak kemudian, bangsa ini akan menjadi bangsa yang jaya.

Semua itu sekali lagi bermula dari diri kita masing-masing. Maukah kita menjadi agent of change menuju kebaikan ummat? Tentu tidaklah mudah menjadi agen perubahan di tengah gejolak multidimensi seperti saat ini. Tapi inilah perjuangannya. Semakin sulit cobaan yang Allah beri maka surga adalah jaminannya. Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan ummatnya.

Ketiga, mahasiswa berperan sebagai calon pemimpin masa depan. Demi waktu yang terus-menerus menerjang tanpa ada yang mampu menghentikannya, maka regenerasi merupakan keniscayaan kehidupan. Demikian pula dengan kelangsungan kehidupan bangsa dan negara. Bangsa ini membutuhkan regenerasi, mengganti generasi terdahulu dengan generasi baru dengan semangat baru (arruhul jadiid).

Disinilah mahasiswa disiapkan untuk menjadi pemimpin di masa yang akan datang. Mahasiswa harus siap dengan segala tuntutan yang harus dimiliki untuk mengemban amanah sebagai calon pemimpin masa depan. Pemimpin bertakwa, berwawasan luas, dan memiliki kemampuan memimpin yang baik merupakan pemimpin harapan bangsa ini.

“Pemimpin suatu kaum adalah yang paling banyak memberikan pelayanan kepada mereka yang dipimpinnya.” (Rasulullah Muhammad SAW).

Sebagai mahasiswa muslim harus menyadari bahwa kita memiliki amanah yang harus dilaksanakan. Banyaknya amanah yang harus kita tanggung jangan sampai melunturkan semangat juang kita. Sejarah membuktikan unsur utama perubah kekalahan menjadi kemenangan adalah generasi muda.

Sejak zaman para nabi hingga sekarang para pemudalah yang menjadi garda depan perubahan kondisi ummat. Para pemuda seharusnya menyadari bahwa inilah saat yang paling tepat untuk beubah dan ikut merubah kondisi.

Masa muda memang penuh tantangan yang harus digunakan untuk mencapai kedewasaan, kematangan dan kepribadian Islami yang benar-benar tangguh. Seorang pemuda yang banyak melakukan penyimpangan akhlak, pemikiran dan tugas-tugas dimana letak keindahannya?

Untuk itu Ia harus memperbaiki diri bersama Islam, bersama orang-orang shaleh, yang bersama-sama meningkatkan kualitas akhlaknya, Ilmu, wawasan, amal, kekuatan fisik dan kemandirian.

Sebagai calon mahasiswa muslim harus menyadari bahwa kita memiliki amanah yang harus dilaksanakan. Banyaknya amanah yang harus kita tanggung jangan sampai melunturkan semangat juang kita. Kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang kita miliki.

Maka yang harus kita lakukan adalah berjuang dengan perjuangan terbaik, beribadah dengan ibadah terbaik, dan beramal dengan amalan terbaik. Semoga UIA bisa menghantarkan kalian menjadi calon pemimpin bangsa yang mampu menjadi Negara Indonesia menjadi Negara yang gemah ripah loh jinawi Baldatun toyyibatun Warabbun ghofur. Amin.

Ahirnya dengan mengharap ridho Allah SWT Masa Taaruf Mahasiswa Baru UIA 2018 dengan tema: Peran Mahasiswa Islam Dalam Era Globalisasi Sebagai Agent of Change Indonesia dengan mengucap “Bismillahirrohmanirrohim secara resmi dibuka.

Allahuakbar! Wallahu a’lam bishshawab

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here